Showing posts with label BIOLOGI. Show all posts
Showing posts with label BIOLOGI. Show all posts

MAKALAH MERANCANG ANALISASI KEBUTUHAN

MAKALAH  MERANCANG ANALISASI KENUTUHAN 


Keterangan :
Untuk download file makalahnya silihakan disini:

=====================================================
BAB I
PENDAHULUAN
A.       LATAR BELAKANG
Seiring dengan kebijakan pemerintah dalam penyelenggaraan pendidikan, dewasa ini  dalam sistem desentralisasi pendidikan setiap sekolah memiliki kesempatan yang luas dalam pengembangan kurikulum sesuai dengan kebutuhan daerah dan karakteristik siswa yang berbeda. Untuk  membantu para pengembang kurikulum termasuk guru di sekolah diperlukan suatu model rancangan instruksional sesuai dengan jenis model kurikulum yang berorientasi pada pencapaian kompetensi sesuai dengan model kurikulum yang berlaku dewasa ini.
       Disain instruksional dapat dipandang sebagai suatu sistem. Sistem adalah satu kesatuan komponen yang saling berkaitan untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan.  Penentuan komponen beserta analisisnya dapat menjamin keberhasilan pencapaian tujuan.  Oleh karena itu   penelitian  mengenai sistem instruksional sangat diperlukan untuk ketercapaian kompetensi seperti  yang digariskan dalam kurikulum.
      Sesuai dengan tujuan penelitian yang ingin dicapai, melalui Research and Development, penelitian ini  menghasilkan model pengembangan Disain Sistem Instruksional yang berorientasi pada pencapaian kompetensi (DSI-PK) yang dapat digunakan guru sebagai pedoman dalam merancang sistem pembelajaran sesuai dengan tuntutan kurikulum.Dalam penerapan DSI-PK ada beberapa prosedur yang harus dilakukan ada hasil yang diharapkan dapat di dapatkan secara maksila, prosedur itu antara lain , analisis kebutuhan, pengembangan dan alat evaluasi. 


B.   RUMUSAN MASALAH
Dari penjabaran singkat pada latar belakan maka penulis dapat merumuskan beberapa permasalahan yang akan dibahas dalam makalah ini, antara lain :
1.      Bagaimana langkah-langkah dalam menganalisis kebutuhan ?
2.      Apa saja yang menjadi Sumber analisi kebutuhan ?



BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Analisis Kebutuhan
Didalam ensiklopedia evaluasi yang disusun oleh Anderson dan kawan-kawan, analisis kebutuhan diartikan sebagai suatu proses kebutuhan sekaligus menentukan prioritas. Need Assessment (analisis kebutuhan) adalah suatu cara atau metode untuk mengetahui perbedaan antara kondisi yang diinginkan/seharusnya (should be / ought to be) atau diharapkan dengan kondisi yang ada (what is)[1]. Kondisi yang diinginkan seringkali disebut dengan kondisi ideal, sedangkan kondisi yang ada, seringkali disebut dengan kondisi riil atau kondisi nyata. Analisis kebutuhan sebagai suatu proses formal untuk menentukan jarak atau kesenjangan antara keluaran dan dampak yang nyata dengan keluaran dan dampak yang diinginkan, kemudian menempatkan deretan kesenjangan ini dalam skala prioritas lalu memilih hal yang paling penting untuk diselesaikan masalahnya. Need Assessment dapat diterapkan pada individu, kelompok atau lembaga (institusi).
Pengertian tersebut sejalan dengan apa yang dijelaskan oleh Seels dan Glasgow (1990) yang menyatakan bahwa analisis kebutuhan adalah proses mengumpulkan informasi tentang kesenjangan dan menentukan prioritas dari kesenjangan tersebut untuk dipecahkan.
Ada beberapa hal yang melekat pada pengertian analisis kebutuhan (need assessment), seperti yang dikemukakan baik oleh mcneil maupun oleh Glasgow. Pertama, Need Assessment merupakan suatu proses artinya ada rangkaian


kegiatan dalam pelaksanaan need assessment.  need assessment  bukanlah suatu hasil, akan tetapi suatu aktivitas tertentu dalam upaya mengambil keputusan.
Kedua, Kebutuhan itu sendiri pada hakikatnya adalah kesenjangan antara harapan dan kenyataan. dengan demikian maka, need assessrnent itu adaiah kegiatan untuk mengumpulkan informasi tentang kesenjangan yang seharusnya dimiliki setiap siswa dengan apa yang telah dimiliki.
Kegiatan melaksanakan need assessment merupakan suatu kegiatan yang pertama kali harus dilakukan dalam setiap model desain sistem instruksional. Hal ini menunjukkan begitu pentingnya melacak nformasi tentang harapan dan kenyataan yakni kemampuan yang harus dimiliki dengan kemampuan yang telah dimiliki.

B.     Langlah-Langkah Analisis Kebutuhan
Sebagai suatu proses , need assissment terdiri atas rangkaian kegiantan yang diawali oleh kegiatan mengumpulkan informasi dan berakhir pada perumusan masalah.
Secara lengkap kegiatan need assissment digambarkan oleh Glasgow dalam komponen – komponen need assessment, atara lain :
1.      Tahapan pengumpulan informasi
Dalam merancang.pembelajaran pertama kali seorang desainer perlu memahami terlebih dahulu informasi tentang siapa dapat mengerjakan apa, siapa memahami apa, siapa yang akan belajar, kendala-kendala apa yang akan dihadapi,dan bagaimana pengaruh keadaan keadaan tertentu terhadap karakteristik siswa. Berbagai informasi yang dikumpulkan akan bermanfaat dalam menentukan tujuan yang ingin dicapai beserta skala prioritas dalam proses pemecahan masalah.
Witkin (1984) mendefinisikan analisis kebutuhan, sebagai proses membuat
keputusan dengan memanfaatkan informasi yang  dikumpulkan.
Tiga hal yang dapat diingat dalam proses  perencanaanpengumpulan data :
·         Apa yang anda ingin ketahui?
·         Bagaimana yang anda dapat lakukan dalam proses pengumpulan data tersebut?
·         Siapa yang dapat dijadikan sumber informasi dalam proses pengumpulan
data  tersebut?[4]
Data-data yang terkumpul akan bermanfaat dalam menentukan dan menyusun langkah-langkah selanjutnya, Yang jelas seorang desainer pembelaiaran dalam proses merancang sistem pembelaiaran harus berpijak pada informasi yang terkumpul. Seorang pengumpul data perlu memiliki kemampuan dalam pelaksanaan teknis, misalnya dalam melakukan wawancara, observasi, serta dalam memanfaatkan sumber yang ada. Sebaiknya proses pengumpulan data, tidak dilakukan hanya dengan satu teknik saja melainkan bisa dilakukan berbagai jenis teknik pengumpulan data secara bersarnaan. Misalnya ketika seorang pengumpul data melakukan wawancara sekaligus ia iuga melakukan observasi dan mungkin melakukan studi dokumentasi.
2.      Tahapan identifikasi kesenjangan
Dalam mengidentifikasi kesenjangan Kaufman dan English (1979), menjelaskan identifikasi keseniangan melalui Organizational Elements Model (OEM). Dalam model OEM, Kaufman menjelaskan adanya lima elemen yang saling berkaitan. Dua elemen pertama, yaitu input dan prosesadalah bagaimana menggunakan setiap potensi dan surnber yang ada; sedangkan elemen terakhir meliputi produk, output dan outcome merupakan hasil akhir dari suatu proses.
Selanjutnya untuk lebih jelas maka digambarkan sebagai berikut :
v  INPUT
v  PROSES
v  PRODUK
v  OUTPUT
v  OUTCOME
§  Input; kondisi yang tersedia pada saat ini, misalnya tentang  keuangan, waktu, bangunan, guru, pelajar, problem, tujuan,  materi kurikulum.
§  Proses; meliputi pelaksanaan pendidikan yang berjalan yang terdiri atas pola pembentukan staf,  pendidikan yang  berlangsung sesuai dengan kompentensi, perencanaan,  metode, pembelajaran individu, dan kurikulum yang  metode, pembelajaran individu, dan kurikulum yang  berlaku.
§  Produk; meliputi penyelesaian pendidikan, keterampilan,  pengetahuan, dan sikap yang dimiliki, serta kelulusan tes  kompetensi
§  Output; meliputi ijazah kelulusan, keterampilan prasyarat, lisensi.
§  Outcome; hasil akhir yang diperoleh


3.      Analisis Performace
Analisis performance meliputi beberapa hal di antaranya :
v  Mengidentifikasi guru. Bagaimana kinerja guru selama ini dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya dalam pengelolaan pembelajaran? Analisis performance mengenai hal ini perlu dilakukan, sebab bagaimanapun lengkap dan tersedianya segala kebutuhan pembelajaran maka tidak akan bermakna manakala kemampuan guru tidak menunjang. Menganalisis performance guru tidak terbatas pada penguasaan materi pernbelaiaran saja, akan tetapi iuga terhadap keterampilan dalam mengelola pembelajaran misalnya keterampilan dalam penggunaan berbagai strategi pembelajaran, pefnanfaatan alat, bahan dan sumber belafar serta kernarn. puan melaksanakan evaluasi hasil belajar siswa.
v   Mengidentifkasi sarana dan kelengkapan penunjang. Bagaimana kelengkapan sarana dan prasarana yang dapat menunjang keberhasilan pembelajaran? Diakui, adanyakesenjangan bisa teriadi manakala proses pembelajaran tidak ditunjang oleh sarana dan prasarana yang dibutuhkan. Seorang desainer pembelajaran perlu mengevaluasi dan menganalisis kondisi ini, sebab bagaimanapun idealnya suatu pemecahan masalah yang diusulkan akhirnya akan kembali pada tersedia atau tidaknya sarana pendukung. Sistem pendidikan cenderung akan efektif manakala didukung oleh ketersediaan fasilitas sebagai sumber pendukung.
v  Mengidentifikasi berbagai kebijakan sekolah. Bagaimana kebijakan-kebijakan sekolah dalam menunjang keberhasilan proses pembelajaran? Untuk menunjang keberhasilan, pimpinan sekolah perlu menerbitkan berbagai kebijakan yang dapat rnemfasilitasi guru dalam melaksanakan programnya. Dengan demikian, pimpinan sekolah dituntut untuk terbuka terhadap segala permasalah yang dihadapi semua unsur yang berkepentingan dalam pelaksanaan program sekolah baik terbuka terhadap guru, komite dan orang tua siswa dan unsur lainnya.
v   Mengidentifikasi iklim sosial dan iklim psikologis. Bagaimana suasana disekolah? Apakah sekolah memiliki iklim yang baik sehingga dapat mendukung keberhasilan setiap program? Iklim sosial adalah hubungan yang baik antara semua unsur sekolah; sedangkan iklim psikologis suasana kebersamaan antara semua unsur sekolah.
4.      Mengodentifikasi kendala beserta sumber-sumbernya
Tahap keempat dalam need assesstnent adalah mengidentifikasi berbagai kendala yang muncul beserta sumber-sumbernya.Dalam pelaksanaan suatu program berbagaikendala bisa muncul sehingga dapat berpengaruh terhadapkelancaran suatu program. Berbagai kendala dapat meliputi,waktu, fasiliias, bahan, pengelompokan dan komposisinya, filosofi, personal, dan organisasi.  Sumber-sumberkendala bisa berasal dari:
pertama, orang yang terlibatdalam suaru program pembelaiaran, misalnya guru-kepalasekolah, dan siswa itu sendiri. Termasuk iuga dalam unsurorang ini adalah unsur filsafat atau pandangan orang terhadappekerjaannya, motivasi keria, dan kemampuan yangdimiilkinya.
kedua, fasilitas  yang ada, di dalamnya meliputiketersediaan dan kelengkapan fasilitas sertakondisi fasilitas. Dan Ketiga, berkaitan dengan jumlah pendanaan besertapengaturannya.
5.      Identifikasi karakter Siswa
Tujuan utama dalam desai pembelajaran adalah memecahkan berbagai problema yang dihadapi siswa, oleh karena itu hal-hal yang berkaitan dengan siswa adalah bagia dari need assissment. Identifikasi yang berkaitan dengan siswa diantaranya adalah tentang usia, jenis kelamin, level pendidikan, tingkat sosial ekonomi, latar belakang, gaya belajar, pengalaman dan sikap.
6.      Identifikasi tujuan
Kaufman (1983) mendefinisikan need assessrnent sebagai suatu proses mengidentifikasi, mendokumentasi dan menjustifikasi kesenjangan antara apa yangterjadi dan apa yang akan dihasilkan melalui penentuan skala prioritas dari
setiap kebutuhan. Definisi yang dikemukakan oleh Kaufman berhubungan erat dengan tujuan yang ingin dicapai. Oleh sebab itu, mengidentifikasi tujuan yang ingin dicapai merupakan salah satu kegiatan yang harus dilaksanakan dalam proses need assesstnent.
7.      Penentuan permasalahan
Tahap akhir dalam proses analisis kebutuhan adalah menuliskan pernyataan masalah sebagai pedoman dalam penyusunan proses desain instruksional. Penulisan masalah pada dasarnya merupakan rangkuman atau sari pati dari permasalahan yang ditentukan. Pernyataan masalah harus ditulis secara singkat dan padat yang biasanya tidak lebih dari satu atau dua paragraf.
C.    SUMBER ANALISIS KEBUTUHAN
Seperti yang telah dijelaskan desain instruksional berorientasi pencapaian kompetensi, adalah sistem desain yang dikembangkan untuk mendukung keberhasilan kurikulum yang berorientasi pada kompetensi, seperti Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Secara umum ada dua jenis analisis kebutuhan, yakni analisis kebutuhan akademis dan nonakademis.
1.      Analisis kebutuhan akademis
Analisis kebutuhan akademis adalah kompetensi yang harus dimiliki oleh siswa sesuai dengan kurikulum yang berlaku yaitu KTSP. Kompetensi yang harus dicapai oleh KTSP tercermin dari Standar Isi dan Standar Kompetensi Lulusan (SI dan SKL) sebagai standar kemampuan minimal yang harus dicapai. Dalam PP No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan Bab V Pasal 26 dijelaskan Standar Kompetensi Lulusan pada jenjang pendidikan dasar bertujuan untuk meletakkan dasar kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan  mengikuti pendidikan lebih lanjut. Standar Kompetensi Lulusan pada jenjang pendidikan menengah umum bertujuan untuk meletakkan dasar kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan  mengikuti pendidikan lebih lanjut.
Standar Kompetensi Lulusan pada jenjang pendidikan menengah kejuruan bertujuan untuk meletakkan dasar kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan  mengikuti pendidikan lebih lanjut  sesuai dengan kejuruannya.

2.      Analisis kebutuhan nonakademis
Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 36 Ayat 1, menjelaskan bahwa daerah dapat mengembangkan kurikulum muatan lokal, yakni kurikulum yang memiliki kekhasan sesuai dengan kebutuhan daerah, serta aspek pengembangan diri yang sesuai dengan minat siswa. Selanjumya ayat2, menjelaskan bahwa kurikulum pada semua jenjang dan ienis pendidikarr dikembangkan dengan prinsip diversifikasi sesuai dengan satuan pendidikan, potensi daerah, dan peserta didik. Atas dasar itulah, dalam proses pengembangan desain pembelajaran sekolah memiliki ruang yang cukup luas untuk mengembangkan isi kurikulum sesuai kebutuhan siswa, potensi, dan karakteristik daerah masing-masing. Baik dalam proses pengembangan maupun proses implementasi kurikulum, siswa harus menjadi tumpuan utama, artinya seluruh proses pengembangan dan implementasi diarahkan untuk memenuhi kebutuhan siswa. Pada kenyataannya yang dibutuhkan siswa bukan saja ke-butuhan akademis, yakni kebutuhan untuk menguasai konsep dan pinsip seperti yang disaiikan dalam berbagai mata pelajaran atau bidang studi, akan tetapi iuga kebutuhan nonakademis yakni berbagai kebutuhan yang berkenaan dengan potensi, minat dan bakat setiap siswa sesuai dengan tuntutan masyarakat.
Dalam konteks inilah perlu dilaksanakan studi kebutuhan nonakademis setiap siswa.
Ada sejumlah prinsip pengembangan kebutuhan nonakademis, yaitu :
b.      Dikembangkan sesuai dengan kebutuhan dan nilai-nilai lokal dimana siswa itu berada.
c.       Dikembangkan untuk meningkatkan nilai-nilai kebangsaan atau untuk menumbuhkankembangkan budaya nasional.
d.      Dikembangkan sesuai dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.
e.       Dikembangkan untuk meningkatkan kemampuan berkompetensi pada masyarakat global.

BAB III
PENUTUP

A.    SIMPULAN
Berdasarkan pembahasan, dapat disimpulkan, bahwa model DSI-PK merupakan salah satu model pengembangan sistem pembelajaran yang berorientasi pada tuntutan sosial kedaerahan dengan mengutamakan sejumlah kompetensi yang dibutuhkan peserta didik dalam kehidupan sehari-hari sehingga peserta didik dapat survive menjalani kehidupannya.

B.     SARAN
Untuk dapat melaksanakan kurikulum yang telah dirancang sesuai tujuan pendidikan, yakni kurikulum berorientasi pencapaian kompetensi siswa (KBK/KTSP), sebaiknya diadakan penataran, dan sejenisnya bagi para pendidik, agar lebih dapat menerapkan kurikulum sesuai dengan yang diharapkan.


DAFTAR PUSTAKA

Sanjaya .Wina,  Perencanaan Dan Desain Pembelajaran,Kencana:Jakarta, 2008
http://teknikind.blogspot.com/2010/05/need-assessment.html
http://tepenr06.wordpress.com/2011/09/19/analisis-konten-dan-tujuan

MAKALAH KLASIFIKASI TUMBUHAN DAN MANFAATNYA

Untuk download file Makalah ini anda bisa download di bawah ini :


BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Alam semesta terdiri dari komponen biotik dan abiotik. Komponen biotik (makhluk hidup) jumlahnya sangat banyak dan sangat beraneka ragam. Mulai dari laut , dataran rendah , hingga di pegunungan , terdapat makhluk hidup yang jumlahnya banyak dan sangat beraneka ragam. Karena jumlahnya banyak dan beraneka ragam , maka kita akan mengalami kesulitan dalam mengenali dan mempelajari makhluk hidup. Untuk mempermudah dalam mengenali dan mempelajari makhluk hidup maka kita perlu cara. Cara untuk mempermudah kita dalam mengenali dan mempelajari makhluk hidup disebut Sistem Klasifikasi (penggolongan / pengelompokan). Dalam makalah ini kami akan membahas secara lebih mengkhusus pada pembagian terstruktur mengenai Tumbuhan mengingat kurangnya pengetahuan wacana bagaimana pengelompokan – pengelompokan wacana tumbuhan mukin yang kita tahu bahwa semua tumbuhan itu yaitu pepohonan yang memiliki daun yang lebat dan batang yang berpengaruh , pada hal banyak hal yang belum kita ketahui wacana dunia tumbuhan (Plantae). 

1.2 Rumusan Masalah
a. Apa itu pembagian terstruktur mengenai ?
b. Apakah tujuan dan manfaat pembagian terstruktur mengenai ?
c. Apa sajakah yang mensugesti pembagian terstruktur mengenai ?
d. Bagaimanakah pembagian terstruktur mengenai tumbuhan ?
e. Bagaimanakah sejarah pembagian terstruktur mengenai ? 


1.3 Tujuan penulisan
a. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan klasifikasi
b. Untuk mengetahui tujuan dan manfaat klasifikasi
c. Untuk mengetahui wacana pembagian terstruktur mengenai tumbahan
d. Untuk mengetahui dasar klasifikasi


BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Klasifikasi.
Kegiatan mengelompokan mengelompokan makhluk hidup disebut pembagian terstruktur mengenai , dengan kata lain pembagian terstruktur mengenai yaitu pengelompokan aneka jenis hewan atau tumbuhan kedalam golongan / takson melalui keseragaman dalam keanekaragaman.

2.2 Tujuan dan Manfaat Klasifikasi
Kalsifikasi bertujuan untuk mempermudah mengenal objek yang beranekaragam dengan cara mencari persamaan dan perbedaan ciri serta sifat pada objek tersebut. Klasifikasi memiliki kegunaan untuk membuktikan korelasi kekerabatan diantara makhluk hidup. Keuntungan mengklasifikasikan makhluk hidup yaitu mempermudah dalam mencari keterangan wacana makhluk hidup yang akan kita pelajari. Selain itu pembagian terstruktur mengenai juga memudahkan dalam memberi nama ilmiah kepada individu atau populasi individu.

2.3 Faktor – Faktor yang mensugesti Klasifikasi.
a. Subjektivitas , yaitu penafsiran seorang ilmuan dapat sangat berbeda pada objek studi yang sama.
b. Dasar / kriteria pembagian terstruktur mengenai yang digunakan.
c. Perkembangan Iptek.
d. Tingkat pengetahuan ilmuan yang melaksanakan klasifikasi
e. Perbedaan tujuan klasifikasi

3.1 Klasifikasi Tumbuhan
Klasifikasi makhluk hidup dilakukan para hebat yaitu :
Aristoteles , mengklasifikasikan makhluk hidup menjadi 2 yaitu dunia tumbuhan (kingdom Plantae) dan dunia hewan (kingdom Animalia)
Carolus Linnaeus , mengklasifikasikan makhluk hidup menjadi 2 yaitu Plantae (tumbuhan) dan Animalia (hewan). Perbedaannya dengan Aristoteles yaitu Linnaeus dapat mengklasifikasikan makhluk hidup kemudian menunjukkan mana ilmiah dengan system tatanama Binominal Nomenklatu dan Carolus Linnaeus yaitu orang yang pertama kali meletakkan dasar pembagian terstruktur mengenai , sehingga Carolus Linnaeus disebut sebagai Bapak Taksonomi. Sehingga Ilmu yang mempelajari wacana pembagian terstruktur mengenai (pengelompokan / penggolongan) disebut Taksonomi. Sebelum adanya pembagian terstruktur mengenai menurut Linnaeus , banyak cara yang mula – mula dilakukan oleh orang – orang untuk melaksanakan klasifikasi. Misalnya pembagian terstruktur mengenai pada tumbuhan berdasarkan hal – hal sebagai berikut :

a. Berdasarkan bentuk dan ukurannya , tanaman digolongkan menjadi tanaman perdu , pohon , semak , dan rerumputan. 
b. Berdasarkan manfaatnya , tanaman digolongkan menjadi tanaman pangan , obat – obatan , sandang dan hias.
c. Berdasarkan lingkungan tempat hidupnya , tanaman digolongkan menjadi tanaman kering (xerofit) , tanaman air (hidrofit) , dan tanaman lembab (higrofit).
d. Berdasarkan cara hidupnya , tanaman digolongkan menjadi tanaman saprofit , benalu , epifit.
Penggolongan mirip diatas ternyata sangat sulit sehingga sekarang lebih sering orang – orang menggunakan cara pembagian terstruktur mengenai makhluk hidup mirip yang telah dibuat oleh Carolus Linnaeus. Carolus Linnaeus meletakan dasar / kriteria pembagian terstruktur mengenai makhluk hidup yaitu:

a. Jumlah sel penyusun tubuh: uniseluler / multiseluler
b. Organ perkembangbiakan
c. Habitus (kenampakan) tumbuhan waktu hidupnya: tegak , merambat , menjalar.=
d. Ada tidaknya biji , bunga , dan buah. 
e. Dari morfologi (struktur badan luar) dan anatomi (struktur badan dalam).
Makhluk hidup yang mempunyai ciri dan sifat yang sama di kelompokkan ke dalam satu golongan. Makin banyak persamaan ciri dan sifat yang ada pada makhluk hidup , makin erat kekerabatannya. Berdasarkan persamaan ciri dan sifat makhluk hidup maka dapat dibentuk kelompok – kelompok. Kelompok – kelompok yang terbentuk diatur dalam urutan dan tingkat tertentu. Carolus Linnaeus membuat urutan pembagian terstruktur mengenai dari tingkat yang terkecil hingga tingkat yang terbesar yaitu sebagai berikut :

a. Unit dasar terkecil dalam pembagian terstruktur mengenai yaitu jenis – jenis (spesies).
b. Jenis – jenis yang serupa dengan ciri tertentu di kelompokan menjadi satu kelompok yang disebut marga (Genus).
c. 
d. Beberapa marga yang serupa dengan ciri tertentu di kelompokan menjadi satu kelompok yang disebut suku (familia).
e. Beberapa suku yang serupa dengan ciri tertentu di kelompokan menjadi satu kelompok yang disebut bangsa (ordo).
f. Beberapa bangsa yang serupa dengan ciri tertentu di kelompokan menjadi satu kelompok yang disebut kelas (classis).
g. Beberapa kelas yang serupa dengan ciri tertentu di kelompokan menjadi satu kelompok yang disebut phylum (division).
h. Beberapa divisio yang serupa dengan ciri tertentu di kelompokan menjadi satu kelompok yang disebut kerajaan (kingdom).
Dengan semakin berkembangnya ilmu pengetahuan di tahun 1960an dan ditemukannya mikroskop elektron serta teknik biokimia untuk mengungkapkan perbedaan secara selular (di tingkat sel) antara organisme yang satu dengan yang lain , para ilmuwan tergerak untuk membuat pembagian terstruktur mengenai baru.
Pada tahun 1969 , R.H. Whittaker mengusulkan pembagian terstruktur mengenai lima kingdom dan ini disetujui oleh sebagian besar biologiwan . Whittaker mengusulkan bahwa fungi (jamur) diklasifikasikan dalam kingdom tersendiri dan terpisah dari kingdom tumbuhan. Alasan Whittaker memisahkan fungi dari kingdom tumbuhan alasannya yaitu jamur tidak melaksanakan fotosintesis dan menyerap makanan dan organisme lain. Selain itu fungi berbeda dengan tumbuhan dalam hal komposisi dinding selnya , struktur tubuhnya dan cara reproduksinya. dengan demikian terdapat 5 kingdom organisme yaitu Monera (bakteri dan cyanophyta) , Protista (protozoa , kapang lendir) , Fungi , Plantae dan Animalia. 
Menurut para hebat , ada sekitar 70.000 jenis jamur. salah satunya yaitu Myxomycetes atau jamur lendir. jamur ini menghabiskan hidupnya sebagai organisme mirip amoeba yang disebut plasmodium. Makanan jamur ini yaitu kuman dan protozoa , dan zat – zat organik yang dijumpainya. Karena jamur ini dapat berpindah – pindah mencari makan , jamur ini digolongkan ke kingdom tersendiri yaitu kingdom fungi.Adapun ciri – ciri kingdom plantae sebagai berikut 

a. Tersusun atas sel – sel eukariotik
b. Bersifat autotof (membuat makanan sendiri).
c. Tubuh melekat pada substrat menggunakan rizoid (akar).
d. Tubuh dapat dibedakan antara akar , batang , dan daun . 

Pada mulanya beberapa hebat menggolongkan dunia tumbuhan (kingdom Plantae) kedalam lima divisio yaitu : 
a. Tumbuhan belah / Schizophyta.
b. Tumbuhan thalus / Thallophyta.
c. Tumbuhan lumut / Bryophyta.
d. Tumbuhan paku / Pteridophyta.
e. Tumbuhan biji / Spermatophyta.

Dengan melihat ciri - ciri kingdom plantae di atas maka pembagian terstruktur mengenai kingdom plantae di golongkan menjadi empat divisio yaitu : 
a. Tumbuhan lumut / Bryophyta
b. Alga / Ganggang
c. Tumbuhan paku / Pteridophyta.
d. Tumbuhan biji / Spermatophyta.

Bagan pembagian terstruktur mengenai Kingdom Plantae.
1.    Lumut Hati / Hepaticae
2.    Bryophyta Lumut sejati / Musci
3.    Lumut Tanduk /Anthoceratopsida
4.    Ganggang Hijau / Chlorophyta
5.    Ganggang Pirang / Chrysophyta 
6.    Ganggang Cokelat / Phaeophyta 
7.    Ganggang Merah / Rhodophyta 
8.    Plantae Psilotophyta
9.    Pteridophyta Licophyta
10. Sphetophyta
11. Pterophyta
12. Spermatophyta T. biji terbuka / Gymnospermae.
13. T. biji tertutup / Angiospermae

3.1.1 Tumbuhan lumut / Bryophyta.
Lumut mempunyai bagian-bagian badan yang ibarat akar , batang , dan daun. Akar tetapi , bagian-bagian itu sebetulnya bukan akar , batang , dan daun sejati. Bagian yang ibarat akar disebut rizoid. Rizoid berupa benang-benang halus. Bagian ini memiliki kegunaan untuk menganbil air dan mineral. Tumbuhan lumut mempunyai klorofil sehingga berwarna hijau. Lumut biasanya hidup di tempat lembab yang tidak terkena cahaya secara langsung. Ada juga lumut yang hidup di tempat kering dan juga di air. Lumut berkembang biak dengan spora dan mengalami pergiliran keturunan.
Perkembangan vegetatif lumut dilakuakan dengan pembentukan spora. Perkembangan generatif lumut dilakukan dengan pembentukan sel-sel kelamin (gamet).
Tumbuhan lumut dapat dapat disebut sporofit dan gametofit alasannya yaitu dapat menghasilkan spora dan sel gamet. Apabila spora jatuh di tempat yang lembab , spora akan tumbuh menjadi benang-benang yang halus dan berkuncup pada beberapa tempat. Benang-benang itu disebut protonema. Selanjutnya protonema tumbuh menjadi lumut yang bersifat gametofit.
Lumut cukup umur membentuk arkegonium dan anteridium. Arkegonium menghasilkan sel kelamin betina (sel telur) , sedangkan anteridium menghasilkan sel kelamin jantan (spermatozoid). Apabila sel kelamin jantan membuahi sel telur terbentuklah zigot. Zigot tumbuh menjadi tumbuhan gres yang berupa tangkai dengan kotak spora di ujungnya yang disebut sporagonium. Sporagonium ini menyatu dengan badan tumbuhan lumut induk.

Sporagonium menghasilkan spora. Bila spora jatuh di tempat lembab akan tumbuh menjadi protonema. Demikianlah siklus tersebut terulang kembali mirip di atas. Berdasarkan bentuk tubuhnya , tumbuhan lumut debedakan menjadi dua kelas , yaitu lumut daun (Musci) dan lumut hati (Hepaticea).


a. Lumut Daun (Musci)
Lumut daun selalu tumbuh berkelompok di tempat-tempat yang lembab atau tempat dengan sedikit air. Lumut daun mempunyai batang dan daun. Letak daun tersusun teratur mengelilingi tangkainya mirip spiral. Contoh lumut daun yaitu Sphagnum dan Polytrichum

Klasifikasi lumut daun :
·  Regnum : Plantae
·  Division : Bryophyta
·  Class : Bryopsid
·  Ordo : Bryoceales
·   Family : Bryopceae
·  Genus : Bryopsida
·  Species : Bryopsida
b. Lumut Hati (Hepaticea)
Tubuh lumut hati terdiri atas lembaran yang ujung-ujungnya terbelah. Lumut hati tumbuh di tempat-tempat berair atau di hutan yang terdapat di pegunungan. Contoh lumut hati yaitu Marchantia , Riccia , dan Pellia.
Klasifikasi lumut hati :
1.    Regnum : Plantae
2.    Division : Hepaticohyta
3.    Class : Hepaticosida
4.    Ordo : Hepaticoccales
5.    Family : Hepaticoceae
6.    Genus : Hepaticopsida
7.    Species : Hepaticiopsida sp
c. Lumut Tanduk (Anthoceratopsida)
Bentuk tubuhnya mirip lumut hati yaitu berupa talus , tetapi sporifitnya berupa kapsul memanjang. Sel lumut tanduk hanya mempunyai satu kloroplas. Hidup di tepi sungai , danau , atau sepanjang selokan. Reproduksi mirip lumut hati. Contohnya Anthocerros sp

3.1.2 Alga / Ganggang
Ganggang memiliki pigmen hijau daun yang disebut klorofil sehingga dapat melaksanakan fotosintesis. Selain itu juga memiliki pigmen – pigmen pelengkap lain yang dominan. Ganggang memiliki ukuran yang beraneka ragam ada yang mikroskopis , bersel satu , berbentuk benang atau pita , atau bersel banyak berbentuk lembaran. Dalam perairan ganggang merupakan penyusun vitoplankton yang biasanya melayang – laying didalam air , tetapi juga dapat hidup melekat didasar perairan disebut neustonik.
Ganggang yang bersifat bentik digolongkan lagi menjadi;
a. Epilitik ( hidup diatas batu)
b. Epipalik (melekat pada lumpur atau pasir)
c. Epipitik ( melekat pada tanaman )
d. Epizoik ( melekat pada hewan).

Berdasarkan habitat yang ditempatinya diperairan , dibedakan atas:
·  Ganggang Subbaerial yaitu ganggang yang hidup didaerah permukaan.
·  Ganggang Intertidal , yaitu ganggan secara periodic muncul kepermukaan alasannya yaitu naik turun air akhir pasang susrut.
·  Ganggang Subritorsal , yaitu ganggang yang berada dibawah permukaan air.
·  Ganggang Edafik , yaitu ganggang yang hidup diddalam tanah pada dasar perairan. 
Jenis – jenis ganggang , misalnya Chlorella sp , bersimbiosis dengan organism lainnya yaitu hidup bersama paramecium , hydra atau molusca; ganggang platimonas sp , hidup bersama cacing pipih convolutta roscofencis.
Macam bentuk badan ganggan yaitu berselsatu atau uniseluler , membentuk koloni berupa filament atau kolini yang tidak membentuk filament.
Sebagian ganggang yang uniseluler dapat bergerak atas kekuatan sendiri (motil) , dan yang tidak dapat bergerak sendiri yaitu nonmotil.

Perbedaan dengan badan uniseluler yang mikroskosis , pada ganggang yang membentuk koloni berupa filament berukuran cukup besar , sehingga dapat dilihat dengan mata telanjang , sel yang terletak paling bawah pada filament membentuk alat khusus untuk menempel pada kerikil , batang pohon , atau lumpur. Alat tersebut dinamakan pelekat. Koloni ganggang yang tidak membentuk filamnen umumnya berbentuk pola atau pipih tanpa pelekat.
Cara ganggang bereproduksi dengan dua macam , yaitu seksual dan aseksual. Reproduksi secara aseksual terjadi melalui pembelahansel , fragmentasi , dan pembentukan zoozpora , sedangkan reproduksi secara aseksual terjadi melalui isogami dan oogami.

Reproduksi akan menghasilkan dua sel anakan yang masing – masing akan menjadi individu gres , terjadi pada ganggang bersel tunggal.
Sedangkan ganggang yang membentuk koloni tanpa filament , taupun koloni yang berupa filament , reproduksi melalui fragmentasi. Fragmentasia dalah terpecah – pecahnya koloni menjadi beberapa bagian.
Berdasarkan dominasi pigmennya , ganggang dapat dibedakan menjadi bebrapa kelompok yaitu ganggang coklat , ganggang merah , ganggang keemasan dan ganggang hijau.

3.1.2 Tumbuhan paku / Pteridophyta.

Tumbuhan paku merupakan tumbuhan berkormus dan berpembuluh yang paling sederhana. Terdapat lapisan pelindung sel (jaket steril) di sekeliling organ reproduksi , sistem transpor internal , hidup di tempat yang lembap. Akar serabut berupa rizoma , ujung akar dilindungi kaliptra. Sel-sel akar membentuk epidermis , korteks , dan silinder sentra (terdapat xilem dan fleom).
Batang tumbuhan paku tidak tampak alasannya yaitu terdapat di dalam tanah berupa rimpang , sangat pendek , ada juga yang dapat mencapai 5 meter mirip pada paku pohon atau paku tiang. Daun ketika masih muda melingkar dan menggulung. Beradasarkan bentuk dan ukurandan susunannya daun tumbuhan paku dibedakan menjadi mikrofil dan makrofil. Mikrofil bentuk kecil atau bersisik , tidak bertangkai , tidak bertulang daun , belum memperlihatkan diferensiasi sel. Makrofil daun besar , bertangkai , bertulang daun , bercabang-cabang , sel telah terdiferensiasi. Berdasarkan fungsinya daun tumbuhan paku dibedakan menjadi tropofil dan sporofil. Tropofil merupakan daun yang khusus untuk asimilasi atau fotosintesis. Sporofil berfungsi untuk menghasilkan spora.

Spora tumbuhan paku dibentuk dalam kotak spora . Kumpulan sporangium disebut sorus. Sorus muda sering dilindungi oleh selaput yang disebut indusium. Berdasarkan macam spora yang dihasilkan tumbuhan paku dibedakan menjadi tiga yaitu paku homospora (isospora) , paku heterospora dan paku peralihan. Paku homospora menghasilkan satu jenis spora (ex Lycopodium/paku kawat). Paku heterospora menghasilkan dua jenis spora yang berlainan yaitu megaspora (ukuran besar) dan mikrospora (ukuran kecil) (ex Marsilea/semanggi dan Selaginella/paku rane). Paku peralihan merupakan peralihan antara homospora dan heterospora menghasilkan spora pembentuk dan ukurannya sama tetapi berbeda jenis kelamin referensi : paku ekor kuda.

Tumbuhan paku bereproduksi secara aseksual (vegetatif) dengan stolon yang menghasilkan gemma (tunas).Gemma yaitu anakan pada tulang daun atau kaki daun yang mengandung spora. Reproduksi seksual (generatif) melalui pembentukan sel kelamin jantan/spermatozoid (gametangium jantan/anteridium) dan sel kelamin betina/ovum (gametangium betina/arkegonium). Seperti pada lumut tumbuhan paku juga mengalami pergiliran keturunan/metagenesis. Metagenesis tersebut dibedakan antara paku homospora dan heterospora. Tumbuhan paku dibedakan menjadi empat kelompok yaitu :

a. Psilotophyta ,
Psilotophyta mempunyai dua genera (ex Psilotum sp). Psilotum sp tersebar luas di kawasan tropik dan subtropik , mempunyai ranting dikotom , tidak memiliki akar dan daun , pengganti akar berupa rizoma diselubungi rambut-rambut yang dikenal rizoid.

b. .Lycophyta ,
Lycophyta contohnya Lycopodium sp dan Selaginella sp. Lycopodium sp sporanya dalam sporofit daun khusus untuk reproduksi dan dapat bertahan dalam tanah selama 9 tahun , dapat menghasilkan spora tunggal yang berkembang menjadi gametofit biseksual (memiliki baik organ jantan dan betina) , jenis homospora. Selaginella sp merupakan tanaman heterospora , menghasilkan dua jenis spora (megaspora/gamet betina dan mikrospora/gamet jantan).

c. Sphenophyta ,
Sphenophyta sering disebut paku ekor kuda , bersifat homospora , mempunyai akar; batang; daun sejati , batangnya keras alasannya yaitu dinding sel mengandung silika. Contohnya Equisetum debile (paku ekor kuda).

d. Pterophyta
Pterophyta (paku sejati) umumnya tumbuh di darat pada kawasan tropis dan subtropis. Daunnya besar , daun muda menggulung. Sporangium terdapat pada sporofil (daun penghasil spora). Contohnya: Adiantum cuncatum (paku suplir untuk hiasan) , Marsilea crenata (semanggi untuk sayuran) , Asplenium nidus (paku sarang burung) , Pletycerium bifurcatum (paku tanduk rusa).\

3.1.3 Tumbuhan biji / Spermatophyta.


a. Tumbuhan Biji Terbuka (Gymnospermae)
Gymnospermae atau tumbuhan biji terbuka yaitu tumbuhan biji yang bijinya tidak tertdapat dalam buah. , tetapi bijinya terletak di daun buah sehingga bijinya tampak dari luar. Daun buah yaitu daun biasa yang berubah bentuk dan fungsinya , yaitu bentuknya memanjang dan tepinya berlekuk-lekuk. Di tempat lekukannya terdapat bakal biji. Karena bakal bijinya tidak diliputi daun buah , tumbuhan biji terbuka disebut tumbuhan biji telanjang.

Gymnospermae digolongkan menjadai lima kelas sebagai berikut :
1. Pteridospermae (Paku Biji)
Kelas Pteridospermae merupakan peralihan dari tumbuhan paku (Pteridophyta) ke Gymnospermae. Tumbuhan kelas ini sudah punah.
2. Cycadinae
Cycadinae meliputi kira-kira 100 spesies yang sebagian besar ibarat pohon palma , agak berkayu , tidak bercabang , akar tunggang , batang memanjang , serta berdaun majemuk dan terdapat di ujung batang. Tumbuhan ini berbungan uniseksual (berkelamin tunggal) , misalnya pakis haji (Cycas rumphii).
Kebanyakan kelas Cycadinae merupakan tumbuhan tropis dan subtropics. Tumbuhan ini banyak dibudidayakan sebagai tanaman hias atau diambil getahnya. Anggota Cycadinae yang lain yaitu Encephalartos lehmannii. Tanaman yang berasal dari afrika ini , merupakan tanaman berumah dua yang dapat digunakan untuk tanaman hias.

3. Ginkgoinae
Anggota kelas ini tinggal satu spesies yaitu Ginkgo biloba (pohon rambut dara cina). Ketinggian pohon ini dapat mencapai 28-30m. pohon ini dapat digunakan sebagai tanaman hias dan biasa ditanam di tengah kota alasannya yaitu tanaman ini tahan terhadap udara tercemar. Daun Ginkgo biloba mirip kipas , kulit buahnya tebal dan lunak. Tumbuhan jenis ini banyak tumbuh di negara Amerika Serikat dan Inggris.

4. Gnetinae
Kelas ini dianggap memiliki perkembangan evolusi paling tinggi alasannya yaitu memiliki bunga sederhana. Tumbuhan ini ada yang berumah satu dan ada yang berumah dua , serta berdaun tunggal dengan tulang menyirip. Contoh tumbuhan kelas Gnetinae yaitu belinjo (Gnetum gnemon). Selain Gnetum gnemon terdapat tumbuhan Welwitschia mirabilis yang termasuk anggota kelas Gnetinae.

Welwitschia mirabilis tumbuh di gurun pasir Afrika. Tidak mirip halnya tumbuhan lain yang mempunyai banyak daun , tumbuhan Welwitschia mirabilis mempunyai satu pasang daun yang liat mirip kulit. Letak daun berhadapan dan terbentang di atas tanah yang berbatu-batu. Pada waktu tumbuh dari pangkalnya , daun-daun ini terbelah-belah membujur dan mati pada ujungnya. Batangnya terpendam di dalam tanah dan berbentuk cawan. Bagian ini muncul di atas tanah.


5. Coniferinae
Kelas ini meliputi kira-kira 600 spesies dan didominasi pinus yang meliputi lebih dari 80 spesies. Kebanyakan memiliki daun yang selalu hijau (evergreen). Tumbuhan ini tersebar luas , tetapi terutama di kawasan cuek dan dataran tinggi. Tumbuhan ini berumah satu (biseksual). Bagian tumbuhan yang bermanfaat , misalnya kayu pinus (Pinus merkusii) memiliki kegunaan untuk pembuatan kertas serta korek api dan getah dammar (Agathis alba) untuk pembuatan cat. Selain itu , tanaman Abies balsamea dapat digunakan sebagian materi balsam. 

b.Tumbuhan Biji Tertutup (Angiospermae)
Tumbuhan biji tertutup (Angiospermae) yaitu tumbuhan biji yang letah bijinya tertutup oleh daun buah. Angiospermae sudah memiliki organ yang berkembang tepat sehingga dianggap sebagai golongan tumbuhan dengan tingkat perkembangan evolusi tinggi , dan angiospermae merupakan tumbuhan berbunga sejati. 

4 Pembuahan Tunggal Ganda 
Berdasarkan keping bijinya (kotiledon) , tumbuhan Angiospermae dibedakan menjadi dua , yaitu Dicotyledoneae (dikotil) , yaitu tumbuhan yang bijinya mempunyai dua kotiledon dan monocotyledoneae (monokotil) , yaitu tumbuhan yang bijinya mempunyai satu kotiledon dapat dijelaskan sebagai berikut:

1. Tumbuhan Berkeping Satu (Monokotil)
Monokotil adalah tumbuhan yang hanya mempunyai satu kotiledon. Tumbuhan monokotil pada dikala berkecambah bijinya tidak membelah alasannya yaitu hanya mempunyai satu keeping biji. 
Kelas monokotil dikelompokkan menjadi beberapa ordo (bangsa) dan setiap bangsa dikelompokkan menjadi beberapa suku. Adapun beberapa suku tumbuhan monokotil yang penting yaitu sebagai berikut:
a. Gramineae (Poaceae)
Tumbuhan ini biasanya mempunyai akar rimpang , batang bundar beruas-ruas dan berongga , serta daun tunggal berbentuk pita dan susunan tulang daunnya sejajar. Daun melekat eksklusif pada batang. Bunga berukuran kecil dan tersusun oleh bulir. Beberapa bulir mrembentuk bulir majemuk. Penyerbukannya biasanya dibantu oleh angin. Contonya yaitu jagung , tebu , padi dan alang-alang. 

b. Cyperaceae

Ciri-ciri tumbuhan anggota famili ini antara lain mempunyai akar rimpang , batang segitiga dan tidak berongga , serta daun tunggal berbentuk pita dan terletak di pangkal batang. Contohnya: rumput teki.

c. Liliaceae 
Tumbuhan ini biasanya mempunyai akar rimpang. Secara umum tumbuhan ini merupakan tumbuhan berair berupa tanaman merambat. Pada jenis tertentu tepi daum berduri dan berlendir , contohnya pengecap buaya yang banyak dimanfaatkan untuk materi kecantikan. Dan referensi lain yaitu bawang putih dan bawang merah yang dimanfaatkan untuk bumbu masakan. 

d. Palmae
Tumbuhan ini biasanya mempunyai akar serabut , batang tidak bercabang , daun menyirip berbentuk kipas , dan tangkai daun atau pelepah melebar. Contohnya: kelapa , aren , dan salak. 

e. Zingiberaceae
Tumbuhan ini mempunyai akar rimpang dan telah mengalami penambahan fungsi sebagai alat perkembangbiakan vegetatif. Anggota tumbuhan ini bermanfaat sebagai materi rempah , obat dan makanan. Contohnya: jahe , kunyit , dan temulawak.

f. Cannaceae
Tumbuhan ini banyak yang berupa semak menahun , berakar rimpang , tebal dan berumbi , serta daun bertulang menyirip. Tumbuhan ini banyak dimanfaatkan sebagai tanaman hias. Contohnya: bunga tasbih.

g. Orchidaceae
Tumbuhan ini hidup secara saprofit dsn epifit , berakar rimpang serta daun menjelma upih dan memeluk batang. Contohnya: anggrek dan vanili.

h. Pandanaceae
Tumbuhan ini berupa semak , perdu , atau pohon yang tumbuh tegak , batang bercabang , serta daun sempit memanjang dan kadang tepi daun berduri. Tumbuhan ini kadang memiliki akar tunjung pada batang atau cabang yang menjulur di atas tanah. Contohny: pandan wangi.

i. Musaceae 
Tumbuhan ini berakar serabut dan berdaun sempurna. Batang berupa batang semu , yang bangun di permukaan tanah yaitu tumpukan pelepah daunnya. Batang aslinya berada di dalam tanah. Buahnya yaitu buah buni atau kotak dan banyak dimanfaatkan sebagai buah segar. Contohnya: pisang

2. Tumbuhan Berkeping Dua (Dikotil)
Dikotil yaitu tumbuhan yang mempunyai dua kotiledon. Pada dikala biji tumbuhan dikotil berkecambah mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:

a. Biji berkeping dua.
b. Dua daun lembaga terangkat keatas.
c. Akar tunggang.
d. Tulang daun menjari.

Tumbuhan dikotil mempunyai beberapa famili , yaitu sebagai berikut:


a. Papilionaceae (suku kacang-kacangan)
Tanaman semak berbatang tegak atau merambat. Bunga berbentuk mirip kupu-kupu. Pada akar terdapat bintil yang merupakan simbiosis dengan bakteri. Contoh: kacang tanah , kacang hijau , dan kacang panjang.
b. Euphorbiaceae (suku getah-getahan)
Merupakan tumbuhan herba , berkayu , dan bergetah. Batangnya menjalar atau membelit. Contoh: ketela pohon dan karet.
c. Mimmosaceae
Tumbuhan berkayu , semak dan pohon. Daun majemuk , karangan bunga berbentuk bongkol , benang sari panjan. Biji di dalam buah polong. Contoh: Mimmosa pudika (si kejut) , Leucaena glauca (petai cina). 
d. Caesalpiniaceae (suku johar)
Batang dan akar berkayu. Bunga mencolok , daunnya bias dipakai sebagai obat. Contoh: kembang merak , asam , johar. 
e. Labiatae
Meliputi tumbuhan perdu , bunga bilateral simetris , bunga memiliki mahkota dan kelopak , benang sari 2 atau 4 dan putuik 1. Contoh: kemangi , kumis kucing. 

f. Convolvulaceae
Merupakan tumbuhan herba dan berkayu , batangnya menjalar , melilit dan bergetah. Bunga simetris radial. Contah: ketela rambat dan kangkung.

g. Myrtaceae
Daun berbintik-bintik dan menghasilkan kelenjar minyak. Contoh: jambu air dan jambu biji.

h. Moraceae
Habitus pohon , daun tunggal , duduk daun menyebar terlindung oleh daun penumpu yang memeluk ranting. Seluruh episode tubuhnya jika terlika akan mengeluarkan getah. Contoh: nangka dan beringin.

i. Rutaceae (jeruk)
Daunnya mengeluarkan orama yang sangat khas. Contohnya: jeruk bali , dan jeruk nipis.

j. Rubiaceae
Dunnya tunggal dengan duduk daun berhadapan pada setiap ruas. Contoh: kopi.

k. Malvaceae (suku kapas-kapasan)
Tumbuhan berdaun tunggal , kulit batang dan buah dapat menghasilkan benang. Contoh: kapas dan rosela

l. Bombaceae
Tumbuhan berdaun tunggal , duduk daun tersebar , dan bunga berwarna menarik. Contoh: durian. m. Apocynaceae (suku kamboja)
Tumbuhan berkayu , bunga mencolok dan bergetah. Contohnya: kamboja , dan alamanda.n. Verbenaceae
Contahnya tanaman jati.
o. Annonaceae
Contahnya srikaya dan sirsak

BAB III
KESIMPULAN

3.1 Keanekaragaman spesies makhluk sangat bervariasi untuk mempelajari begitu banyak dan begitu beragamnya makhluk hidup bukanlah hal yang mudah .Klasifikasi membantu setiap orang dalam mengenal dan mempelajari organisme melalui dasar / kriteria dan korelasi kekerabatan antar organisme 
3.2 Setiap orang dapat melaksanakan pembagian terstruktur mengenai pada makhluk hidup tetapi untuk melaksanakan pembagian terstruktur mengenai yang benar harus memenuhi dasar – dasar pembagian terstruktur mengenai yang sudah ada.

DAFTAR PUSTAKA
Mulyani. Sri. 2006. Botani Umum 3. Penerbit Kanisius. Jogjakarta
Tim Penyusun.2003. Biologi Kelas 1a SMU Semester 1. Klaten: Intan Pariwara.
Tim Penyusun.2007.Detik – Detik Ujian Nasional Biologi. Klaten: Intan Pariwara